Tag Archives: ekonomi digital

Ancaman Bencana Revolusi Industri 4.0

Badai revolusi industri era keempat (Industry 4.0) semakin terasa di Indonesia. Revolusi ini memungkinkan industri untuk mengintegrasikan produk yang dihasilkan dengan teknologi otomisasi tinggi dan internet.

Profesor Klaus Schwab sebagai penggagas World Economic Forum (WEF) melalui bukunya The Fourth Industrial Revolution menyatakan bahwa revolusi ini secara fundamental dapat merubah cara kita hidup, bekerja dan berhubungan satu dengan yang lain. Revolusi industri keempat digadang-gadang mampu meningkatkan laju mobilitas informasi, efisiensi organisasi industri dan membantu meminimalisir kerusakan lingkungan.

Revolusi ini dapat dirasakan akhir-akhir ini di Indonesia, salah satunya dalam bentuk digitalisasi sektor jasa transportasi di Indonesia yang terlihat dari kehadiran taksi dan ojek daring. Keduanya dapat menyediakan layanan jasa antar baik barang dan orang tanpa memiliki satu pun armada transportasi yang digunakan dalam pelayanannya.

Namun demikian, revolusi ini tidak datang tanpa membawa masalah baru. Sebut saja ketidakmampuan pemerintah untuk membuat regulasi terkait model bisnis dengan teknologi baru, fragmentasi sosial hingga berpotensi melebarkan ketimpangan ekonomi.

Menciptakan Pengangguran   

Konsumen rasional memilih barang dengan harga lebih murah yang dihasilkan di dalam pasar. Melalui digitalisasi, barang yang disediakan akan lebih murah karena penggunaan tempat, tenaga kerja, hingga barang yang diperjualbelikan menggunakan mekanisme yang lebih efisien daripada yang ditawarkan konvensional.

Tidak lupa berevolusinya model bisnis startup di era ini dengan mekanisme bakar uang mampu memberikan potongan harga dan promo yang menggiurkan yang tentunya tidak ditawarkan oleh konvensional.

Hadirnya transportasi daring di samping memberikan peluang terciptanya lapangan kerja baru juga berisiko menciptakan pengangguran baru jika tidak dapat diantisipasi. Sopir transportasi konvensional seperti sopir ojek pangkalan, angkot dan taksi berpeluang masuk ke dalam jurang pengangguran akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh lebih murah dan nyaman di mata masyarakat saat ini.

Tidak hanya sopir perusahaan transportasi konvensional, kita masih belum berbicara mengenai kemungkinan dirumahkannya para karyawan akibat anjloknya pendapatan perusahaan tersebut.

Serupa dengan penyedia jasa transportasi konvensional, hal serupa juga terjadi dengan pedagang di kios-kios tradisional yang mulai tergusur akibat gelombang e-commerce melalui kemunculan berbagai toko daring. Para pedagang merugi dan berujung bangkrut karena toko daring menyediakan barang yang lebih bervariasi, murah dan mudah diakses.

Kedua contoh tersebut sudah mampu mengindikasikan bagaimana digitalisasi yang menjadi bagian dari revolusi industri 4.0 mulai menggeser peran konvensional di dalam pasar.

Tidak hanya digitalisasi, ke depan penggunaan robot dalam mendukung otonomisasi di ranah industri manufaktur dan jasa akan semakin tidak terelakan. Hal ini didorong oleh keinginan perusahaan untuk memangkas biaya yang ditimbulkan oleh sumber daya manusia. Tuntutan kenaikan upah yang tidak diiringi dengan produktivitas menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami oleh perusahaan terkait dengan sumber daya manusia.

Perkembangan teknologi yang pesat cepat atau lambat akan berpengaruh pada permintaan tenaga kerja di masa depan. Ke depan permintaan tenaga kerja bergeser. Industri akan cenderung memilih tenaga kerja terampil menengah dan tinggi (middle and highly-skilled labor) daripada tenaga kerja kurang terampil (less-skilled labor) karena perannya dalam mengerjakan pekerjaan repetisi dapat digantikan dengan otonomisasi robot.

Usaha Pemerintah

Melihat permasalahan yang ada, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar industri 4.0 tidak berubah menjadi petaka.

Menurut laporan IFR (International Federation of Robotics) pada tahun 2009 tingkat otonomisasi Indonesia masih sebesar 39 unit robot per 10.000 pekerja, lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata global mencapai 66 unit robot per 10.000 pekerja. Korea menduduki posisi pertama dengan 400 unit robot per 10.000 pekerja.

Angka ini akan terus meningkat seiring dengan kebutuhan industri untuk mengerjakan pekerjaan repetisi di lini produksi sektor manufaktur.

Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah sebelum terlambat. Meskipun tingkat pengangguran pada tahun 2016 tercatat lebih rendah sejak 1998, namun otonomisasi masih menjadi ancaman serius bagi tenaga kerja kurang terampil yang perannya akan mulai tergeser perlahan. Bencana pengangguran akibat kemajuan teknologi sudah terlihat di negara ASEAN seperti Vietnam, Kamboja dan Myanmar yang kehilangan sekitar 86 persen pekerjaan di sektor garmen dan alas kaki berdasarkan hasil publikasi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Lebih lanjut, kemampuan tenaga kerja perlu ditingkatkan agar dapat melek teknologi. Spesialisasi melalui kursus dan pelatihan vokasi menjadi suatu keharusan yang dimiliki calon pekerja untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan di masa depan.

G20 Taskforce on The Digital Economy telah dibentuk dan menghasilkan cetak biru G20 terhadap pertumbuhan inklusif (G20 Blueprint on Innovative Growth) di Hangzhou tahun 2016 lalu. Ke depan, sebagai negara yang menginisasi kemunculan revolusi industri, Jerman menjadikan digitalisasi sebagai agenda utama yang akan dibawa dalam pertemuan negara-negara G20 di Hamburg Summit, 7 Juli nanti.

Sebagai bagian dari G20, Indonesia tentu perlu bersiap-siap dan waspada. Jika tidak alih-alih mendapatkan manfaat, revolusi ini justru menjadi musibah dengan semakin lebarnya ketimpangan ekonomi dibuatnya.

Dimuat di Harian Nasional 26 April 2017

Copyright © 2017. Powered by WordPress & Romangie Theme.