Tag Archives: industri

Celah Pasar Australia

Akhir tahun ini perusahaan manufaktur mobil terbesar di Australia seperti Ford, Holden, Mitsubishi dan Toyota akan menutup seluruh pabriknya di negara tersebut. Hal ini disebabkan semakin terbanjirinya pasar mobil Australia dengan produk impor akibat regulasi tarif impor yang rendah hingga mendekati nol persen. Pasar Australia yang terlalu kecil dan industri tidak bisa memanfaatkan sepenuhnya economies of scale menjadi faktor lain yang menyebabkan semakin terjerembabnya industri manufaktur mobil di negara kangguru itu.

Perusahaan pabrikan mobil di Australia memutuskan untuk melemparkan basis perakitan di negara-negara ASEAN dan Tiongkok dengan alasan memanfaatkan biaya tenaga kerja yang jauh lebih murah ketimbang memproduksi di dalam negeri.

Di sisi lain ekspor mobil Indonesia pada tahun 2016 menurun dan berada pada angka 201 ribu unit setelah sebelumnya pada tahun 2015 mencapai 207 ribu unit. Pemerintah pun menetapkan target ekspor mobil bisa tumbuh sebesar 7%-10% pada tahun ini.

Matinya industri manufaktur mobil Australia tentu menjadi celah pasar ekspor yang dapat dimanfaatkan bagi industri manufaktur mobil Indonesia. Apalagi mengingat menurut Kementerian Perindustrian angka tujuan ekspor produk hasil industri ke Australia masih rendah dan menurun dari 2,9 juta di tahun 2015 menjadi 2,6 juta pada tahun lalu.

Bersaing dengan Thailand 

Selama ini Thailand menjadi pemain besar sebagai pemasok mobil ke Australia. Harga mobil impor dari negara ini jauh lebih murah daripada buatan dalam negeri. Jika dibandingkan dari struktur biaya tenaga kerja saja, Thailand hanya membayar pekerjanya di pabrik perakitan mobilnya sebesar $6 per jam atau $12.500 per tahun, jauh berbeda dengan Australia yang membayar hingga $69.000 per tahun.

Selain biaya tenaga kerja yang jauh lebih murah, selama tiga dekade terakhir pemerintahan Thailand dan Australia bersepakat dalam menurunkan tarif impor juga turut membantu Thailand sebagai pemain besar di pasar mobil Australia. Sejak penandatanganan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Deal) dengan Australia pada tahun 2005, mobil impor dari Thailand dengan sukses memberikan pukulan telak terhadap industri manufaktur mobil di Australia.

Berkaca pada fakta tersebut, tidak mudah menembus pasar mobil Australia. Namun, Indonesia memiliki sejumlah keuntungan yang tidak dimiliki oleh Thailand. Indonesia memiliki struktur biaya tenaga kerja jauh lebih rendah daripada Thailand sekitar $3.500 hingga $4.000 per tahun. Belum lagi faktor diuntungkannya Indonesia dengan letak geografis yang strategis dan berdekatan dengan Australia sehingga biaya pengiriman jauh lebih murah. Dua hal ini tentu mampu membuat mobil ekspor dari Indonesia dapat memiliki harga yang lebih kompetitif dibandingkan dengan Thailand.

Salah satu opsi yang dapat ditawarkan untuk mendukung ekspor mobil ke Australia adalah mengembangkan infrastruktur Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap sebagai pelabuhan terdekat dengan Australia. Pelabuhan ini masih didominasi oleh aktivitas ekspor-impor komoditas pertanian seperti kedelai dan komoditas curah kering seperti batu bara dan klinker.

Halangan lain tentu permasalahan spesifikasi mobil yang akan dipasarkan. Pabrik mobil di Indonesia kebanyakan memproduksi mobil jenis serbaguna (MPV) ketimbang sedan, double cabin dan jenis sport (SUV) seperti yang digemari pasar Australia.

Hambatan lainnya adalah penggunaan standar emisi yang tidak sama dengan negara tujuan ekspor. Tentu permasalahan standar emisi kendaraan juga berkaitan pada penyediaan bahan bakar minyak yang sesuai dengan standar emisi tersebut. Indonesia saat ini masih menerapkan standar emisi Euro2 yang sudah ditinggalkan negara-negara maju. Australia sendiri telah menerapkan standar emisi Euro5 sedangan Thailand sudah menerapkan Euro4. Meskipun Indonesia mampu menghasilkan mobil dengan standar Euro5, namun pemisahan dua lini produksi untuk pasar domestik dan ekspor tidak efisien.

Berbagai produsen mobil ternama asal Jepang saat ini memiliki pabrik produksi untuk pasar Asia di Thailand. Tentu pemerintah perlu merayu para produsen ini untuk menjadikan pabrik-pabriknya di Indonesia sebagai pabrik dengan orientasi ekspor ke Australia. Rayuan tersebut dapat berupa menjaga terus iklim investasi hingga memberikan insentif pajak.

Pemberian tax holiday yang sering diterapkan oleh Thailand untuk menarik investor dapat diterapkan guna mendorong industri komponen sebagai penunjang industri perakitan mobil. Tidak lupa fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) perlu diberikan manakala komponen yang digunakan masih berasal dari luar Indonesia. Keringanan juga perlu diberikan pada bea keluar khusus ekspor mobil ke Australia.

Selain berupaya dalam merelaksasi pajak dan pelonggaran berbagai aturan di dalam negeri, pemerintah juga perlu bekerjasama dengan Australia agar bea masuk dan restriksi yang dikenakan pada mobil impor utuh (CBU) asal Indonesia dapat ditekan. Upaya ini dapat dinegosiasikan dalam Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sebagai kerangka kerjasama bilateral antar dua negara.

Upaya memanfaatkan celah dalam meraih ceruk pasar mobil Australia tidak bisa dilakukan sendiri oleh industri manufaktur otomotif di Indonesia. Apalagi Thailand sebagai pemain besar sudah hampir sepenuhnya menguasai pasar mobil di Australia. Pemerintah perlu serius memanfaatkan salah satu kesempatan ini guna mencapai target ekspor yang diharapkan.

Dimuat di Tabloid Kontan 1 Mei 2017

Copyright © 2017. Powered by WordPress & Romangie Theme.