Tag Archives: pertumbuhan ekonomi

Fatamorgana Membaiknya Ekonomi

Puja puji pemerintah atas kinerja ekonomi pada Kuartal II-2017 sebagai bekal mengarungi setengah tahun ke depan bak oase di tengah gurun pasir. Pemerintah percaya diri bahwa ekonomi telah membaik. Hal ini bisa dilihat dari percaya dirinya pemerintah dengan menaikan target pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 menjadi 5,2 persen.

Status rating layak investasi dari tiga lembaga utama membantu capital inflow ke Indonesia mencapai Rp 117 triliun hingga 6 Juli 2017, sedangkan sepanjang 2016 jumlahnya hanya Rp 126 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus memberikan sinyal positif dikisaran level 5,800. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bahkan menyimpulkan bahwa sektor keuangan secara umum dalam posisi normal.

Laba beberapa bank naik hingga double digit, baik swasta maupun milik pemerintah. Laba Bank BCA misalnya hingga semester 1 tahun ini membukukan labar hingga 10,5 triliun, naik 10 persen dari periode sebelumnya. Secara akumulasi laba bank milik pemerintah tumbuh 24,1 persen (yoy). Empat Bank BUMN (BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN) mampu meraup untung hingga Rp 30,63 Triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 24,69 triliun. Dari segi aset, empat bank ini mengalami pertumbuhan sebesar 13,1 persen. Bank

Inflasi masih terjaga di bawah batas yang ditentukan APBN-P 2017 sebesar 4,3 persen, nilai tukar stabil di kisaran Rp 13.300 dan surplus neraca perdagangan karena membaiknya permintaan global, mendorong meningkatnya ekspor manufaktur secara kumulatif Januari-Juni 2017 mencapai 7,63 miliar dolar AS (yoy). Seakan tidak ada yang mampu merefleksikan bahwa indikator makroekonomi Indonesia dalam keadaan baik-baik saja.

Sayang seribu sayang, klaim pemerintah atas membaiknya ekonomi domestik layaknya fatamorgana, terlihat dari jauh namun pada kenyataannya hanya sebuah khayalan. Membaiknya ekonomi domestik tidak terasa hingga ke sektor riil. Bagaimana tidak, daya beli masyarakat yang lesu masih menghantui ekonomi domestik. Menjadi sangat kontradiktif ketika dikatakan ekonomi domestik membaik namun sektor konsumsi sebagai bagian terbesar dalam PDB berada pada tahap yang mengkhawatirkan.

Selain dari barang impor, sektor konsumsi sebagian besar juga disediakan oleh produsen dalam negeri. Keduanya sangat bergantung satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat digambarkan ketika daya beli masyarakat melemah, imbasnya akan terasa pada kinerja industri dalam negeri yang tergerus akibat turunnya permintaan. Hal ini terkonfirmasi dari kinerja industri manufaktur yang malah turun di Kuartal II tahun ini,

Tergerusnya kinerja industri berdampak pada nasib tenaga kerja di dalamnya. Imbasnya, daya beli tenaga kerja di industri tersebut akan terganggu.

Penjualan ritel di kuartal II-2017 hanya tumbuh 6,7 persen padahal tahun lalu mencapai 7-8 persen. Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat hanya 345.243 orang yang terserap di sektor ritel pada kuartal II tahun ini, turun 2,67 persen dari tahun sebelumnya.

Penjualan barang konsumsi di semester I-2017 hanya sebesar 3,4 persen sedangkan pada tahun lalu mampu mencapai 10,7 persen. Survei AC Nielsen pada Kuartal I-2017 menunjukan penjualan hypermart terkontraksi sementara minimart mengalami pertumbuhan positif meskipun lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Data ini menjelaskan terjadi pergeseran konsumsi masyarakat dengan lebih sering berbelanja di minimart daripada hypermart. Masyarakat sangat selektif mengonsumsi barang kebutuhannya dan berbelanja dengan jumlah yang lebih sedikit. Masyarakat juga lebih memilih berbelanja barang yang segera dikonsumsi dibandingkan berbelanja untuk dikonsumsi di masa datang atau dijadikan stok.

Dari sektor otomotif, kendaraan kelas bawah seperti motor mengalami penurunan penjualan sebesar 13,1 persen menjadi 2,7 juta unit. Memang terjadi peningkatan tipis penjualan mobil pada semester I-2017 sebesar 0,61 persen, namun itu pun disumbang oleh mobil mewah.

Sementara dari indikator pembangunan fisik bisa kita lihat dari konsumsi semen yang belum membaik. Konsumsi semen nasional pada Semester I-2017 turun 29 juta ton atau turun 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data ini juga dikonfirmasi melalui kekuatan masyarakat dalam mengonsumsi properti yang melemah di tengah suplai properti yang rendah. Pada kuartal II tahun ini, KPR rumah tumbuh 7,9 persen, lebih rendah daripada kuartal I yaitu sebesar 8,7 persen.

Daya beli yang anjlok juga memakan korban bagi pertumbuhan industri manufaktur yang turut melemah dengan hanya naik sebesar 4 persen pada Kuartal II tahun ini.

Mengenali Sebab

Daya beli yang melemah bukan karena sebab yang sederhana. Pil pahit harus ditelan masyarakat, lantaran pemerintah melakukan kebijakan yang menekan daya beli mereka. Inflasi bahan bergejolak yang menggambarkan harga kebutuhan pokok yang rendah di penghujung lebaran seharusnya menjadi pertanda bagi pemerintah agar melihat bahwasanya sudah terjadi perlambatan daya beli.

Namun, pemerintah justru mengambil kesempatan ini untuk menaikan komponen administred price agar inflasi secara keseluruhan terlihat terkendali. Pencabutan subsidi bertahap tarif dasar listrik 900 VA yang diikuti dengan masuk anak sekolah pasca lebaran kemaren sudah cukup untuk menggerus daya beli mereka.

Pendapat lain mengatakan bahwa terjadi pergeseran konsumsi (shifting consumption) yang ditandai dengan berbagai hal. Indeks Tendensi Bisnis (ITB) misalnya yang menggambarkan terjadi peningkatan pada lapangan usaha informasi dan Komunikasi pada Kuartal II-2017 ini, dari sebelumnya pada Kuartal I sebesar 104,58 menjadi 116,40 di tengah penurunan di berbagai lapangan usaha lain.

Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan pertumbuhan e-commerce terbesar di dunia. BPS mencatat dalam 10 tahun terakhir, e-commerce tumbuh sebesar 17 persen dengan total jumlah usaha sebesar 26,2 juta unit. Belum lagi hal ini dipermudah dengan hampir 73 persen pengguna internet di Indonesia mengakses internet menggunakan perangkat selular.

Jika memang benar terjadi penguatan dari aktivitas jasa e-commerce sebagai hilir yang mendekati konsumen, namun industri hulu yang menyuplai barang terhadap industri hilir seperti manufaktur melemah, maka patut diduga kita bukan saja mengalami pergeseran konsumsi melainkan pergeseran produksi. Transaksi e-commerce bisa jadi memperdagangkan barang impor ketimbang diproduksi di dalam negeri. Akhirnya kita masuk ke dalam fase deindustrialisasi kronis yang mana menggambarkan jasa naik pesat sedangkan kita semakin tidak mampu memproduksi apa-apa.

Dimuat di Harian Kontan 10 Agustus 2017

 

Copyright © 2018. Powered by WordPress & Romangie Theme.